Penyerahan Arsip Penyelidikan Kasus Marsinah ke YLBHI: Kebenaran Tak Hanya Hidup di Rak-Rak Lembab Arsip

Existensil – Jakarta, 26 Juni 2025 langit Menteng belum sepenuhnya gelap ketika bangku-bangku di Gedung YLBHI perlahan terisi. Peringatan syahdu 40 hari kepergian Hari Wibowo diisi dengan agenda penyerahan arsip penyelidikan kasus Marsinah ke YLBHI. Udara malam terasa sunyi, namun sarat rasa, seolah menahan napas untuk menyambut peristiwa yang tak sekadar memperingati kepergian seseorang, melainkan membuka kembali pintu ingatan pada seorang perempuan yang namanya menggantung dalam sejarah: Marsinah.

Empat puluh hari sejak Hari Wibowo; aktivis HAM, pencari kebenaran, penenun luka-luka bangsa, menghembuskan napas terakhirnya, arsip penyelidikan yang selama puluhan tahun ia rawat akhirnya diserahkan. Bukan sekadar tumpukan dokumen, melainkan warisan perlawanan. Jejak upaya untuk menjahit kembali tubuh sejarah yang pernah dicabik kekuasaan.

Dimulai dengan Petikan Nada, Berakhir dengan Penyerahan Luka

Sebelum kata-kata membanjiri ruangan, seniman Jati Andito membuka malam dengan alunan musik yang terasa seperti doa. Di hadapan lebih dari 70 hadirin, hadir sosok-sosok yang dulu pernah berdiri di barisan paling depan: M. Isnur, Neng Dara Affiah, Rocky Gerung, Nining Elitos, Dian Septi, hingga Marsini, saudari kandung Marsinah yang datang membawa kehilangan yang belum selesai.

Rocky Gerung
Rocky Gerung

“Mas Hari bukan hanya pencari fakta, dia penjaga ingatan,” ujar Isnur. Ia menggambarkan ulang kisah pilu Mei 1993, ketika Marsinah, perempuan buruh, terakhir kali terlihat setelah menghadap Kodim Sidoarjo. Surat protes yang ia tulis adalah jejak keberanian terakhir sebelum tubuhnya ditemukan dua minggu kemudian tak bernyawa, penuh luka.

Negara bungkam. Militer disebut, tapi tak pernah tersentuh hukum. Nama-nama seperti Kapten Kusaeri mengendap di catatan, tetapi tak pernah masuk persidangan. Dan Hari Wibowo melalui Tim Pencari Fakta merekam semua itu.

Di tengah rangkaian pidato, suara paling lirih justru datang dari Niken, istri almarhum Hari.

“Negara bisa memberi gelar pahlawan pada Marsinah, tapi siapa yang berani menyebut siapa pembunuhnya?” katanya, suaranya retak. “Arsip ini bukan untuk dipuja. Ini luka. Dan kami menyerahkannya, agar luka itu tak dibungkam.”

Marsini pun bicara, dengan air mata yang tak bisa ia sembunyikan. “Saya ingin tahu siapa pembunuh adik saya. Kenapa harus Marsinah yang mati? Kenapa bukan saya?” Pertanyaan yang menyayat, tak untuk dijawab, hanya untuk dihadirkan.

Rocky Gerung berbicara bukan tentang nostalgia, tetapi tentang kemacetan demokrasi hari ini. “Kita belum masuk demokrasi. Hanya berpindah dari satu rezim gelap ke lorong setengah cahaya. Dan kini, ruang gerakan menyusut jadi perebutan mineral dan modal.”

Lalu ia menegaskan: “Tak ada mantan aktivis. Hanya mereka yang berhenti berpikir.”

Marsini, kakak kandung Marsinah
Marsini, kakak kandung Marsinah

Marsinah, Perempuan yang Dilenyapkan oleh Negara

Nining Elitos menyebut Marsinah sebagai tubuh buruh yang ditakuti negara. “Dia hanya minta THR. Tapi negara melihatnya sebagai ancaman.”

Dian Septi, dari marsinah.id, menolak glorifikasi yang memutihkan sejarah. “Marsinah dibunuh. Bukan gugur karena cinta negeri, tapi karena menolak tunduk. Tubuhnya dikirim pulang sebagai pesan: diam, atau kau jadi berikutnya.”

Ia mengingatkan: ingatan kolektif bisa dirampas. Maka, tugas kita adalah menjaga narasi tetap tajam, tetap perempuan, tetap lantang.

 

Digitalisasi Sebagai Upaya Melawan Penghapusan

Penyerahan berkas arsip Tim Pencari Fakta Marsinah ke YLBHI
Penyerahan berkas arsip Tim Pencari Fakta Marsinah ke YLBHI

Tepat pukul 21.07, berkas asli berpindah tangan. Dari Niken dan Marsini, kepada YLBHI. Dari ruang pribadi, ke ruang publik. Dari duka, ke perlawanan.

Sesuai wasiat Hari Wibowo, seluruh dokumen akan didigitalisasi dan disebarluaskan. Agar kebenaran tak hanya hidup di rak-rak lembab arsip, tapi hadir di layar-layar kita, membisikkan: jangan lupa, jangan diam.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *