INKLUSIFA -Lampu ruangan perlahan diredupkan. Layar mulai menyala, memperlihatkan potongan-potongan kehidupan yang selama ini jarang hadir dalam percakapan publik. Bukan kisah tentang kesembuhan yang dramatis. Bukan pula narasi heroik yang berakhir bahagia. Yang muncul justru perjalanan panjang, sunyi, dan sering kali melelahkan: upaya perempuan dengan disabilitas psikososial untuk terus bertahan, merawat diri, dan menjalani hidup di tengah stigma.
Film dokumenter “Jalan Pulih”, produksi Pusat Rehabilitasi YAKKUM bersama Locomotion, PPRBM Solo, dan sutradara Wahyu Utami dengan dukungan Program INKLUSI, menjadi salah satu karya terpilih dalam festival dokumenter yang diselenggarakan oleh Progresif dan WatchDoc. Setelah diputar di Yogyakarta, film tersebut kembali menyapa publik di Jakarta, membawa suara perempuan disabilitas psikososial dari Banjarnegara ke ruang diskusi yang lebih luas.
Pada Sabtu, 25 Juli 2026, di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, panitia Djourno Fest menyerahkan token award kepada Penghargaan itu bukan sekadar pengakuan terhadap kualitas sebuah film dokumenter, melainkan apresiasi terhadap suara-suara yang selama ini berada di pinggir percakapan.

Namun, sesungguhnya kekuatan “Jalan Pulih” tidak terletak pada penghargaan yang diterimanya.Film ini justru menawarkan sesuatu yang lebih mendasar: cara baru memandang pemulihan.
Selama bertahun-tahun, masyarakat sering memahami kesehatan mental sebagai persoalan “sembuh” atau “tidak sembuh”. Seolah pemulihan adalah garis akhir yang harus dicapai. Ketika seseorang belum mampu kembali menjalani hidup seperti sebelumnya, ia dianggap gagal. “Jalan Pulih” menolak cara pandang tersebut.
Melalui cerita-cerita personal yang intim, dokumenter ini memperlihatkan bahwa pemulihan bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan yang berlangsung setiap hari. Ada hari ketika seseorang merasa lebih kuat. Ada hari ketika ia kembali terpuruk. Semua itu tetap bagian dari proses yang sah.
Bagi perempuan dengan disabilitas psikososial, perjalanan itu bahkan jauh lebih kompleks. Mereka bukan hanya menghadapi tantangan kesehatan mental. Mereka juga berhadapan dengan lapisan kerentanan lain yang saling bertumpuk. Stigma sosial masih membuat banyak orang menganggap mereka tidak mampu mengambil keputusan sendiri.
Dalam relasi keluarga maupun masyarakat, suara mereka kerap diabaikan. Risiko mengalami kekerasan berbasis gender pun lebih tinggi dibandingkan perempuan pada umumnya. Kerentanan yang saling beririsan (intersecting vulnerabilities) inilah yang menjadi benang merah dalam film tersebut.
Alih-alih memotret mereka sebagai korban yang harus dikasihani, “Jalan Pulih” memilih memperlihatkan mereka sebagai individu yang memiliki daya, harapan, sekaligus hak untuk menentukan arah hidupnya sendiri.
Film ini juga mengajak penonton melihat persoalan yang lebih struktural. Masih banyak pendekatan terhadap disabilitas psikososial yang berpusat pada institusi tertutup, mulai dari panti hingga berbagai bentuk institusionalisasi yang menjauhkan seseorang dari keluarga dan komunitasnya. Padahal, pengalaman banyak penyintas menunjukkan bahwa dukungan sosial yang inklusif justru menjadi fondasi penting dalam proses pemulihan.
Di sisi lain, dokumenter ini turut menyoroti berhentinya sejumlah program pemberdayaan penyandang disabilitas yang sebelumnya didanai melalui anggaran desa. Perubahan prioritas pembangunan, termasuk pembentukan Koperasi Desa Merah Putih di sejumlah wilayah, disebut berdampak pada berkurangnya ruang pemberdayaan bagi kelompok rentan.
Pesan yang ingin disampaikan sederhana tetapi kuat, pemulihan tidak mungkin berdiri sendiri. Ia membutuhkan lingkungan yang mendukung, keluarga yang menerima, komunitas yang inklusif, dan kebijakan publik yang berpihak.
BagiĀ Yossie, terpilihnya “Jalan Pulih” di Djourno Fest bukan semata pencapaian bagi Pusat Rehabilitasi YAKKUM. Festival ini menjadi ruang untuk memperluas percakapan mengenai pengalaman perempuan dengan disabilitas psikososial yang selama ini nyaris tak terdengar.
“Film ini adalah bagian dari kerja-kerja advokasi dan perjuangan kami di tingkat akar rumput, seperti di Banjarnegara, sampai ke seluruh wilayah Indonesia yang sampai saat ini masih menghadapi tingginya stigma terhadap disabilitas psikososial. Kerentanan terhadap perempuan dengan disabilitas psikososial di Indonesia seringkali tidak pernah dibahas. Padahal kawan-kawan ini menanggung beban berlapis. Melalui ‘Film Jalan Pulih’, kami ingin menyampaikan pesan untuk siapa saja bahwa pulih adalah hak dan perjalanan yang sah bagi setiap individu. Penghargaan di Djourno Fest ini adalah untuk para perempuan disabilitas psikososial yang terus berjuang merawat pemulihannya setiap hari, dan untuk keluarga yang setia mendampingi,” ujarnya.

Djourno Fest sendiri selama ini dikenal sebagai ruang temu antara sinema dokumenter, jurnalisme warga, dan gerakan sosial. Berbagai karya yang diputar tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga mengundang publik untuk mempertanyakan ketimpangan yang selama ini dianggap biasa. Dalam konteks itulah, “Jalan Pulih” menemukan maknanya. Film ini tidak menawarkan jawaban instan. Tidak ada resep cepat untuk pulih. Yang ditawarkan justru keberanian untuk mendengarkan.
Sebab selama ini, perempuan dengan disabilitas psikososial lebih sering menjadi objek pembicaraan daripada subjek yang didengar. Mereka dinilai, diputuskan, bahkan diatur hidupnya tanpa diberi kesempatan menceritakan pengalaman mereka sendiri. “Jalan Pulih” membalik keadaan itu, film ini, memberi ruang bagi mereka untuk berbicara tentang rasa takut, harapan, relasi dengan keluarga, hingga perjuangan mempertahankan martabat sebagai manusia. Dan mungkin, di situlah letak makna sesungguhnya dari sebuah pemulihan.
Bukan ketika seseorang berhasil menghapus seluruh luka, melainkan ketika ia memiliki ruang yang aman untuk hidup bersama luka tersebut tanpa kehilangan hak, martabat, dan kesempatan untuk menjadi bagian dari masyarakat. Karena pada akhirnya, pulih bukanlah perjalanan yang harus ditempuh sendirian. Ini adalah tanggung jawab bersama keluarga, komunitas, negara, dan kita semua.
