INKLUSIFA– Di tengah dunia yang semakin bising oleh krisis, konflik, bencana, dan tekanan kehidupan sehari-hari, Yayasan Pulih memilih merayakan ulang tahunnya dengan cara yang berbeda. Bukan pesta atau seremoni, melainkan membuka ruang belajar bagi publik.
Melalui PULIH Knowledge Day yang digelar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia pada Jumat (24/7/2026), Yayasan Pulih mengajak masyarakat berbicara tentang kesehatan mental, kemanusiaan, dan harapan. Tahun ini menjadi momen yang istimewa karena organisasi tersebut genap berusia 24 tahun, bertepatan dengan 100 tahun kelahiran Prof. Saparina Sadli, salah satu tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan psikologi, hak asasi manusia, dan gerakan perlindungan perempuan di Indonesia.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Eksekutif Yayasan Pulih Livia Iskandar mengatakan, peringatan dua momentum tersebut bukanlah sebuah kebetulan, melainkan pengingat bahwa nilai-nilai yang diwariskan Prof. Saparina Sadli tetap hidup dalam setiap langkah Yayasan Pulih.
“Ulang tahun ke-24 Yayasan Pulih menjadi momen refleksi sekaligus penghormatan kepada Prof. Saparina Sadli yang pada tahun ini genap berusia 100 tahun. Beliau bukan hanya seorang akademisi, tetapi juga peletak dasar pemikiran tentang pentingnya penghormatan terhadap martabat manusia, keadilan, dan kesehatan mental dalam kerja-kerja kemanusiaan. Nilai-nilai itu terus menjadi pijakan Yayasan Pulih hingga hari ini,” ujarnya.

Menurut Livia, tema “Pulih Bersama: Merawat Diri, Merawat Kemanusiaan, Merawat Masa Depan” dipilih karena mencerminkan tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini. “Kami percaya bahwa pemulihan tidak bisa dilakukan sendirian. Ketika seseorang mengalami kekerasan, kehilangan akibat bencana, atau tekanan psikologis, yang dibutuhkan bukan hanya layanan profesional, tetapi juga lingkungan yang mampu merawat sesama. Karena itu, PULIH Knowledge Day kami rancang sebagai ruang belajar bersama bagi masyarakat,” katanya.
Livia mengungkap, Merawat Manusia, Bukan Sekadar Menangani Trauma Selama hampir seperempat abad, Yayasan Pulih telah mendampingi penyintas kekerasan, korban bencana, perempuan, anak, serta kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan psikososial. Pengalaman panjang tersebut menjadi bekal untuk menghadirkan berbagai diskusi publik dalam PULIH Knowledge Day.
“Mulai dari peran psikologi dalam kerja hak asasi manusia bersama Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dicky Pelupessy, Ph.D, pembahasan mengenai perlindungan perempuan dan anak bersama Dra. Desy Andriani, Deputi Perlindungan Hak Perempuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), hingga refleksi Kamala Chandrakirana dari Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) melalui tema Membangun Mimpi di Tengah Tumpukan Krisis,” bebernya.
Tema tersebut menjadi sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini. Konflik bersenjata di berbagai belahan dunia, krisis iklim yang memicu bencana semakin sering, ketidakpastian ekonomi, hingga meningkatnya polarisasi sosial telah menjadi sumber tekanan psikologis bagi banyak orang. “Indonesia pun menghadapi tantangan serupa. Bencana alam yang datang silih berganti, meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, tekanan ekonomi keluarga, serta derasnya arus informasi di media digital membuat masyarakat hidup dalam situasi yang nyaris tanpa jeda,” ungkap Livia.
Di tengah situasi tersebut, kesehatan mental bukan lagi sekadar persoalan individu, melainkan menjadi kebutuhan bersama. Sesi yang dibawakan Kamala Chandrakirana mengajak peserta memahami bahwa membangun mimpi bukan berarti mengabaikan kenyataan pahit, tetapi menjaga harapan agar masyarakat tetap mampu bergerak maju meskipun krisis belum usai. Ketahanan mental bukan berarti selalu kuat, melainkan memiliki ruang untuk beristirahat, saling menopang, dan menemukan makna di tengah ketidakpastian.
Pesan itu sejalan dengan perjalanan Yayasan Pulih selama 24 tahun. Bagi organisasi ini, pemulihan bukan sekadar mengobati trauma, tetapi membantu individu dan komunitas menemukan kembali rasa aman, harapan, serta kemampuan untuk melanjutkan hidup.
Belajar Merawat Diri dengan Hal Sederhana
Berbagai sesi lainnya mengangkat pengalaman Yayasan Pulih selama mendampingi penyintas kekerasan, penanganan psikologis korban bencana, pendampingan anak dan remaja, advokasi korban bersama Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), hingga tantangan kesehatan mental masyarakat digital.
Bagi Yayasan Pulih, kesehatan mental tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berkaitan dengan lingkungan sosial, keadilan, keamanan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Tidak semua proses pemulihan harus dimulai dari ruang konseling.
Melalui Workshop Merawat Diri, peserta diajak melukis sebagai media mengekspresikan emosi. Dipandu psikolog Yayasan Pulih, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa merawat kesehatan mental dapat dimulai dari aktivitas sederhana yang memberi ruang bagi seseorang untuk berhenti sejenak, mengenali emosinya, dan mendengarkan dirinya sendiri.
Selain itu, pengunjung juga dapat mengikuti Pameran Interaktif “Pulih Lebih Dekat”, yang memperkenalkan berbagai program Yayasan Pulih, kesempatan magang, hingga aktivitas interaktif bagi masyarakat.
Di tengah dunia yang serba cepat, kegiatan sederhana seperti melukis, berbincang, atau sekadar hadir dalam ruang yang aman sering kali menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan mental. Yayasan Pulih ingin menunjukkan bahwa merawat diri bukanlah bentuk kemewahan atau sikap egois, melainkan fondasi agar seseorang tetap mampu hadir bagi keluarga, pekerjaan, dan komunitasnya.
Melanjutkan Warisan Saparina Sadli
Bagi Yayasan Pulih, memperingati 100 tahun Prof. Saparina Sadli bukan sekadar mengenang seorang tokoh. Lebih dari itu, peringatan tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan membangun masyarakat yang menghargai martabat manusia masih terus berlangsung.
“Kami berharap PULIH Knowledge Day bukan hanya menjadi perayaan ulang tahun organisasi, tetapi juga menjadi ruang untuk melanjutkan semangat Prof. Saparina Sadli. Semangat untuk mendengarkan, mendampingi, dan memastikan setiap orang memiliki kesempatan untuk pulih dengan bermartabat,” tutur Livia.

Warisan pemikiran Prof. Saparina Sadli mengajarkan bahwa kesehatan mental tidak dapat dipisahkan dari penghormatan terhadap hak asasi manusia dan keadilan sosial. Di tengah berbagai krisis yang terus menguji masyarakat, semangat itulah yang ingin terus dihidupkan Yayasan Pulih melalui pendidikan publik, pendampingan psikososial, dan kerja-kerja kemanusiaan. Di tengah meningkatnya tantangan kesehatan mental dan berbagai krisis yang dihadapi Indonesia maupun dunia, pesan tersebut terasa semakin relevan.
“Masyarakat mungkin tidak selalu mampu menghentikan perang, mencegah bencana, atau menghapus seluruh ketidakadilan. Namun, setiap orang masih dapat memilih untuk menjaga kewarasan, merawat empati, dan saling menguatkan,” tutup Livia.
